Maaf Harus Jujur, Organ Ekstra Kampus semacam HMI, PMII, GMNI dll Kini Kalah Pamor

Bagikan berita ini :

Pernah nggak kita sadari bahwa akhir-akhir ini organisasi mahasiswa (ormawa) ekstra kampus yang tergabung dalam Kelompok Cipayung semacam HMI, PMII, GMNI, PMKRI, dan GMKI jarang dibahas oleh masyarakat, terutama di kalangan pemuda milenial?

Di luar kader dan alumni masing-masing organisasi, anak milenial justru lebih banyak mengenal komunitas-komunitas, bahkan partai. Lah, kira-kira apa penyebab organisasi ekstra kampus kalah pamor? Mari kita ulas bareng-bareng.

Dulu, mahasiswa yang menjadi kader organ ekstra kampus terkesan keren; auto-garang. Tapi itu dulu, sebelum negara api menyerang. Sekarang boro-boro keren, ada orang yang mau noleh ketika berpapasan dengan mahasiswa beralmamater organ ekstra kampus saja sudah syukur.

Setelah diobservasi secara tidak resmi, ada beberapa kesimpulan. Pertama, kader-kader sekarang masih menggunakan pola-pola lama alias kaku. Contoh yang paling sederhana adalah urusan fesyen. Iya tahu, bebas-bebas aja. Tapi masa sih harus mengenakan pakaian resmi lengkap dengan atributnya pada acara yang sebenarnya nggak penting-penting amat? Bahkan, ada mahasiswa yang nggak melepas segala macam atribut tersebut ketika di kelas. Kan, aneh.

Sementara, anak-anak muda kekinian sukanya yang kasual, nggak kaku, chill aja gitu. Lho, ini penting. Bagaimana mau berinteraksi dan kerja-kerja organisasi, kalau gaya lo aja nggak asyik, kawan!

Seorang teman, dulu dia ketua cabang di salah satu organ ekstra kampus, pernah share video terkait salah satu partai di Inggris. Saat acara resmi, tokohnya mengenakan pakaian kasual. Partainya yang identik warna merah, nggak pakai atribut merah, dan itu besar.

Jadi, kawan-kawan senasib sebangsa dan setanah air, sekarang udah nggak jaman lagi harus ditandai dengan atribut resmi ke mana-mana. Apakah kalian takut nyasar arah jalan pulang?

Belum lagi, sikap beberapa kader yang terkesan jumawa, sok pinter, seolah-olah kampus hanya milik mereka. Berlomba-lomba untuk berkuasa dan menguasai. Padahal, banyak juga mahasiswa lain yang bisa diajak berjuang bareng, tapi udah nggak sreg duluan. Sebenarnya keberadaan kader-kader organ ekstra kampus ini untuk kepentingan kelompoknya atau mahasiswa sih?

Kesimpulan kedua, kini organ ekstra kampus cenderung tak bisa ‘menjual dirinya sendiri’, baik itu kader secara personal maupun gerakan yang sifatnya kolektif. ‘Yang dijual’ paling isu kesuksesan alumni masing-masing organisasi, yang kenal pun nggak. Atau, bercerita tentang gerakan mahasiswa jaman dulu untuk merekrut calon kader.

Belum lama ini, ketika Presiden Jokowi menunjuk para menteri, banyak kader-kader organ ekstra kampus ‘nyampah’ di media sosial dengan foto-foto atau status ucapan “selamat” kepada para alumninya yang sukses masuk lingkaran Istana.

Alhasil, glorifikasi terhadap organisasi dan alumninya itu turut menguatkan pandangan bahwa organ ekstra kampus ujung-ujungnya hanya urusan politik praktis. Kesuksesan kader seolah-olah diukur dari sejauh mana masuk ke lingkaran elit.

Organ ekstra kampus seakan-akan menjadi organisasi sayap (underbow) partai, satu langkah sebelum menjadi politisi beneran. Ya kalau begitu nggak heran banyak anak milenial langsung masuk partai yang representasi anak muda.

Ketika organ ekstra kampus nggak mampu ‘menjual’, anak-anak komunitas justru sukses mem-branding dirinya atau komunitasnya. Kader-kader organ ekstra kampus lebih suka bicara soal penguasaan ketimbang penguatan basis, dengan alasan perjuangan akan lebih mudah jika masuk ke sistem.

Bahkan, mereka sudah bicara soal pos kementerian mana yang bisa dimasuki nantinya. Yah, kalau memang benar untuk kepentingan masyarakat sih bagus ya. Tapi nyatanya, ah sudahlah… Ambyar!

Padahal, banyak kader yang potensial di bidang pertanian, pendidikan, wiraswasta, yang sekiranya bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru. Bukan sekadar mensesaki beberapa pos di kementerian.

Kesimpulan ketiga atau terakhir, organ ekstra kampus gagal mentransformasi gerakan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa setiap jaman ada orangnya, dan setiap orang ada jamannya. Masa di era revolusi industri 4.0, sekelas organisasi berskala nasional masih menggunakan metode gerakan jaman 90-an?

Buktinya, mereka masih sibuk kajian-kajian konvensional yang nggak ada ujung pangkalnya. Kalaupun mau mengkritik pemerintah, harus aksi turun ke jalan. Sampai-sampai sering terdengar ungkapan “kalau gak demo berarti gak gerak”. Itu juga mulai kalah pamor dari anak STM.

Kajian-kajian konvensional dan unjuk rasa tentu tetap dibutuhkan, mungkin sampai akhir jaman nanti. Bagaimanapun, tak akan ada perubahan tanpa teori dan konfrontasi. Tapi gimana caranya menyambut era digital ini?

Paling ujung-ujungnya hanya memanfaatkan akses teknologi untuk membuat pernyataan ke media online dengan judul yang sangar, semisal “mengecam keras dan bla bla bla…” Kalah sama anak-anak komunitas yang lebih siap untuk itu, karena telah mendigitalisasi gerakan mereka.

Ini bukan berarti organ ekstra kampus harus membuat startup macam Gojek. Setidaknya mampu memaksimalkan platform yang ada. Ya gimana, menjalankan fungsi media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, hingga Youtube saja belum maksimal. Kalah sama selebtwit, selebgram, youtubers, dan lain-lain.

Sama seperti urusan fesyen tadi, kaku amat sih. Padahal, bicara gerakan yang kudu luwes. Saya yakin kader-kader organ ekstra kampus memiliki gagasan yang luas, sayang aja kalau tenggelam di antara buih-buih kata para sobat senja.

Beberapa teman saya yang aktif di organisasi ekstra kampus masih ada yang memandang ‘sebelah mata’ platform-platform tersebut. Miris sih… Di sisi lain, mereka yang tidak ‘berkapasitas’ mampu meng-influence para penggemarnya dengan membahas segala hal, mulai dari persoalan ekonomi, politik, dan lain-lain secara sederhana dan efektif.

Sekarang, sila buka ponsel masing-masing, lalu ketik satu nama organisasi tadi di mesin pencari. Atau, buka situs web dan akun media sosial resmi mereka. Lihatlah hasilnya, paling cuma visi-misi atau foto-foto kaderisasi dan ketemu alumni.

Bagi yang aktif di organ ekstra kampus, semoga setelah membaca ini kalian tetap mem-follow akun media sosial organisasi kalian daripada Young Lex. Kalau saya, kebetulan aktif di organ ekstra yang mem-follow Awkarin.

Artikel ini sudah terbit di voxpop.com dengan judul “Maaf Harus Jujur, Organ Ekstra Kampus semacam HMI, PMII, GMNI dll Kini Kalah Pamor”

Penulis : Addarori Ibnu Wardi

Bagikan berita ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HALLOBANTEN.COM